https://microbiotech.ppj.unp.ac.id/index.php/mcrobio/issue/feedMicrobiotech2026-05-04T03:45:19+00:00Dr. Dwi Hilda Putri, S.Si., M.Biomeddwihildaputri08@gmail.comOpen Journal Systems<p><strong>e_ISSN : 3046-5885 </strong><br /><strong>p_ISSN : </strong><strong> </strong><br /><strong>Frequency : </strong>Microbiotech publishing an article are biannual, in November and May.<br /><strong>E-mail : </strong>microbiotech@ppj.unp.ac.id<br /><strong>Publisher :</strong> Biology Departement, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Universitas Negeri Padang<br /><strong>Focus & Scope : </strong>This journal dedicated to research publications related to the advancement of tropical biology studies in the South East Asia Region. It published research articles, short communication, and reviews on microbiology and biotechnology.</p> <p><span style="font-weight: 400;"> </span></p>https://microbiotech.ppj.unp.ac.id/index.php/mcrobio/article/view/138Jenis-Jenis Kepiting yang Diperjualbelikan Melalui Platform E-Commers di Indonesia2026-03-31T04:05:09+00:00Iftihal Fathonah Bakriikhsankamilbakri07@gmail.comRijal Satriarijalsatria@unp.fmipa.ac.idSandi Fransisco Pratamasfpratama@fmipa.unp.ac.idYusni Atifahyusniatifah@fmipa.unp.ac.id<p>Pergeseran paradigma pemasaran modern menuju platform digital yang memfasilitasi perdagangan komoditas perikanan, termasuk kepiting hias, namun sering kali mengabaikan akurasi informasi taksonomi dan status konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis kepiting yang diperjualbelikan melalui <em>e-commerce</em> di Indonesia serta meninjau status perlindungannya. Secara teoritis, studi ini mengacu pada peran ekologis kepiting serta urgensi dalam mencegah praktik <em>biopiracy</em>. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui pencarian kata kunci pada platform Shopee, Tokopedia, dan Lazada periode Februari-Maret 2026. Data diverifikasi menggunakan <em>crab database</em> dan dianalisis berdasarkan klasifikasi taksonomi serta status IUCN Red List dan CITES untuk spesies yang boleh diperdagangkan. Hasil penelitian menemukan 20 spesies kepiting dari 12 genera dan 6 famili. Temuan penting menunjukkan adanya perdagangan spesies endemik terancam punah (<em>Endangered</em>/EN), yakni <em>Parathelphusa pantherina</em>, serta spesies dengan status <em>Data Deficient </em>(DD) seperti <em>Terrathelphusa chilensis</em>. Kesimpulannya, perdagangan kepiting melalui <em>e-commerce</em> mencakup spesies dengan distribusi luas hingga spesies endemik yang memerlukan pengawasan ketat dan integrasi kebijakan konservasi untuk menjamin keberlanjutan keanekaragaman hayati di Indonesia.</p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Microbiotechhttps://microbiotech.ppj.unp.ac.id/index.php/mcrobio/article/view/141Hidden Resistance: The Rising Significance of Non-RRDR rpoB Mutations in Multidrug-Resistant TB 2026-05-04T03:45:19+00:00Karina Kusuma Karinakarinaputrikusuma09@gmail.comDwi Hilda Putridwihildaputri.08@gmail.comSiska Alicia Farmakarinaputrikusuma09@gmail.comFadilaturahmahkarinaputrikusuma09@gmail.com<p><em>This article aims to examine the role of non-RRDR mutations in the rpoB gene in rifampicin resistance and their implications for tuberculosis diagnosis. This study employed a literature review of scientific articles published between 2015 and 2025 focusing on rpoB mutations, rifampicin resistance, and diagnostic methods such as GeneXpert and whole genome sequencing (WGS). The results indicate that most rifampicin resistance is associated with mutations within the RRDR region; however, mutations outside the RRDR also contribute significantly to resistance. These non-RRDR mutations are often undetected by conventional diagnostic methods, potentially leading to false susceptible results. This condition may result in delayed diagnosis and inappropriate treatment. Therefore, non-RRDR mutations represent an important hidden resistance mechanism. The use of genomic technologies such as WGS is essential to improve diagnostic accuracy and support effective tuberculosis control.</em></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Microbiotechhttps://microbiotech.ppj.unp.ac.id/index.php/mcrobio/article/view/114Identifikasi Ektoparasit Ikan Mas (Cyprinus carpio Linnaeus, 1758) melalui Uji Mikroskopis pada Kelompok Pembudidaya Ikan Serbausaha, Kota Padang 2026-02-04T03:57:42+00:00Windy Pizo Ladufiwindypizola@gmail.comShafiah Adilla Putriwindypizola@gmail.comSandi Fransisco Pratamasfpratama@fmipa.unp.ac.idRijal Satriawindypizola@gmail.comYusni Atifahwindypizola@gmail.comSarbenwindypizola@gmail.comHariantowindypizola@gmail.com<p>Budidaya ikan mas (<em>Cyprinus carpio</em>) merupakan salah satu kegiatan perikanan air tawar yang berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan dan perekonomian masyarakat. Namun, keberhasilan budidaya sering terkendala oleh gangguan kesehatan ikan akibat infeksi parasit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis parasit yang menginfeksi ikan mas yang berasal dari Kelompok Pembudidaya Ikan (POKDAKAN) SERBAUSAHA melalui uji mikroskopis di Laboratorium Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumatera Barat. Metode yang digunakan meliputi pengamatan makroskopis dan mikroskopis terhadap kerokan kulit, insang, dan sirip ikan. Hasil pengamatan menunjukkan adanya dua jenis ektoparasit, yaitu <em>Trichodina</em> sp. yang ditemukan pada lendir permukaan kulit dan <em>Dactylogyrus</em> sp. yang ditemukan pada insang ikan mas. Keberadaan parasit tersebut berpotensi menimbulkan gangguan fisiologis pada ikan, seperti iritasi jaringan, peningkatan produksi lendir, gangguan pernapasan, hingga penurunan kesehatan ikan secara umum. Pemeriksaan mikroskopis terbukti efektif sebagai metode deteksi awal infeksi parasit dan dapat dijadikan dasar dalam upaya pengendalian penyakit serta peningkatan kesehatan ikan budidaya.</p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Microbiotechhttps://microbiotech.ppj.unp.ac.id/index.php/mcrobio/article/view/139Isolasi Genetik dan Karakterisasi Bakteriofaga Klebsiella pneumoniae menggunakan Metode Double Layer Agar dan Transmission Electron Microscopy (TEM)2026-05-04T03:33:08+00:00Yesiska Yulitayesiskayulita@gmail.comDwi Hilda Putridwihildaputri.08@gmail.comRosantia Sarassariyesiskayulita@gmail.comIrdawatiyesiskayulita@gmail.comSiska Alicia Farmayesiskayulita@gmail.com<p>Peningkatan resistensi antibiotik terutama pada kasus infeksi bakteri Klebsiella pneumoniae menjadikan penting adanya alternatif yang dapat mengatasi hal tersebut, salah satunya dengan agen bakteriofaga. bakteriofaga memiliki kemampuan menghancurkan dan membunuh bakteri dimana kemampuan ini dapat dideteksi melalui isolasi dan karakterisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis isolasi bakteriofaga terhadap bakteri Klebsiella Pneumoniae dengan metode double layer assay dan karakterisasi TEM. Metode penelitian berupa penelitian berjenis kualitatif dengan teknik literatur review. Hasil temuan menunjukkan bahwa isolasi bakteriofaga terhadap bakteri Klebsiella pneumoniae dapat dilakukan dengan metode double layer assay. Melalui metode ini, aktivitas bakterifaga dalam membunuh bakteri ditunjukkan dari terbentuknya clear plaque pada media akibat lisisnya sel dinding bakteri. Karakterisasi dilakukan setelah isolasi bakteri dengan metode TEM (Transmission Electron Microscopy) untuk mengidentifikasi fag dari morfologi bentuk, ukuran, dan klasifikasinya. Karakterisasi dengan TEM ini dapat memastikan jika fag yang telah diisolasi merupakan fag baru ataupun berbeda dan diklasifikasikan sesuai karakter yang didapatkan Dengan demikian, metode ini efektif dalam mendeteksi bakteriofag yang dapat digunakan sebagai agen terapi maupun agen biokontrol.</p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Microbiotechhttps://microbiotech.ppj.unp.ac.id/index.php/mcrobio/article/view/133Review Artikel: Perkembangan Penelitian Biologi Ikan Sepat Rawa (Trichopodus trichopterus) dalam Dua Dekade Terakhir 2026-03-31T04:09:07+00:00Frenky Diofrenkydio12@gmail.comAbdul Razakar710322@gmail.comYusni Atifahfrenkydio12@gmail.comRijal Satriafrenkydio12@gmail.com<p><strong>Tujuan:</strong> Review artikel ini bertujuan untuk meninjau perkembangan kajian mengenai biologi ikan sepat rawa (<em>Trichopodus trichopterus</em>) selama dua dekade terakhir serta mengidentifikasi tren penelitian terkait pertumbuhan, reproduksi, kebiasaan makan, ekologi, dan potensi budidaya. <strong>Metode:</strong> Kajian dilakukan melalui studi literatur dengan mengikuti pedoman PRISMA. Artikel ilmiah tahun 2005–2025 dikumpulkan dari Google Scholar dan Garuda menggunakan kata kunci terkait <em>Trichopodus trichopterus</em>. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara deskriptif berdasarkan tema kajian.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Hasil kajian menunjukkan bahwa sebagian besar artikel berfokus pada pola pertumbuhan, biologi reproduksi, kebiasaan makan, dan adaptasi lingkungan. Beberapa studi melaporkan pola pertumbuhan alometrik, faktor kondisi yang baik, serta fekunditas dari ratusan hingga lebih dari seribu telur dengan pola pemijahan total. Selain itu, spesies ini juga berpotensi sebagai bioindikator lingkungan dan memiliki prospek dalam budidaya ikan air tawar.</p> <p><strong>Kesimpulan Utama:</strong> Kajian mengenai biologi <em>T. trichopterus </em>meningkat dalam dua dekade terakhir, namun penelitian terkait dinamika populasi, genetika, dan dampak lingkungan masih terbatas dan memerlukan kajian lebih lanjut.</p> <p><strong>Kata kunci </strong><em>Trichopodus trichopterus, pertumbuhan, reproduksi, ekologi, budidaya</em></p> <p><em> </em></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Microbiotechhttps://microbiotech.ppj.unp.ac.id/index.php/mcrobio/article/view/140From GeneXpert to Whole Genome Sequencing (WGS): The Evolution of Detecting rpoB Resistance2026-05-04T03:37:12+00:00Farrah Azzahrafarrahazzahra6@gmail.comDwi Hilda Putridwihildaputri.08@gmail.comYuni Ahdafarrahazzahra6@gmail.comElsa Yuniartifarrahazzahra6@gmail.com<p>This study aims to review the development of technologies for detecting rpoB gene mutations associated with rifampicin resistance in Mycobacterium tuberculosis. The method employed was a literature review of various scientific publications collected from sources such as Google Scholar, Scopus, and SINTA. The results of the study indicate significant technological evolution from conventional methods, such as the Niehl-Neelsen stain and culture, toward molecular-based platforms. GeneXpert MTB/RIF offers the advantage of rapid results less than 2 hours with high sensitivity, but has limitations in specifically detecting the RRDR region. Conversely, Whole Genome Sequencing (WGS) and Next-Generation Sequencing (NGS) provide comprehensive nucleotide-level resolution, enabling the detection of mutations outside traditional hotspots as well as heteroresistance conditions. Although GeneXpert is highly superior for rapid diagnosis, the integration of WGS into the national health system is crucial for comprehensive genomic surveillance and improving the precision of TB therapy in Indonesia</p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Microbiotech