Analysis of Aflatoxin in Corn from Traditional Markets in Padang City Using Immunoaffinity column and HPLC

Authors

  • Fichi Azra Syaqila Universitas Negeri Padang
  • Dezi Handayani Universitas Negeri Padang

Keywords:

Aflatoksin, Jagung, HPLC, Immunoaffinity column, Keamanan Pangan

Abstract

Corn (Zea mays L.) is a major food commodity in Indonesia, used as a staple food, animal feed, and industrial raw material. However, the humid tropical climate increases the risk of mycotoxin contamination, especially aflatoxins produced by Aspergillus flavus and A. parasiticus. Aflatoxin B1 is particularly toxic and carcinogenic, making its presence in food a public health concern. This study aimed to analyze aflatoxin levels in corn samples from traditional markets in Padang City using Immunoaffinity column purification and High-Performance Liquid Chromatography (HPLC) with fluorescence detection. Samples were extracted with methanol:water, purified using AflaTest columns, and analyzed by HPLC at 360/440 nm. The analysis detected four aflatoxins: G2 (0.196 µg/kg), G1 (1.233 µg/kg), B2 (0.303 µg/kg), and B1 (6.266 µg/kg), with a total aflatoxin content of 8.00 µg/kg. Although the total level was below the Indonesian maximum limit (20 µg/kg), the aflatoxin B1 level exceeded the allowable limit of 5 µg/kg set by BPOM RI. Thus, the samples were considered unfit for consumption. The findings emphasize the need for strict quality control from harvest to storage to minimize aflatoxin contamination and ensure food safety.

Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu komoditas pangan penting di Indonesia yang dikonsumsi secara luas sebagai makanan pokok, pakan ternak, dan bahan baku industri. Namun, kondisi iklim tropis yang lembap menyebabkan jagung rentan terhadap kontaminasi mikotoksin, terutama aflatoksin yang dihasilkan oleh kapang Aspergillus flavus dan A. parasiticus. Aflatoksin, khususnya B1, bersifat toksik dan karsinogenik, sehingga keberadaannya dalam bahan pangan harus diawasi secara ketat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan aflatoksin pada sampel jagung dari pasar tradisional di Kota Padang menggunakan metode Immunoaffinity column sebagai tahap pemurnian dan High Performance Liquid Chromatography (HPLC) dengan detektor fluoresensi sebagai metode analisis. Sampel jagung diekstraksi menggunakan pelarut metanol:air, dimurnikan melalui kolom AflaTest, kemudian dianalisis menggunakan HPLC dengan panjang gelombang 360/440 nm. Hasil menunjukkan bahwa empat jenis aflatoksin berhasil terdeteksi, yaitu G2 (0,196 µg/kg), G1 (1,233 µg/kg), B2 (0,303 µg/kg), dan B1 (6,266 µg/kg), dengan total kadar aflatoksin sebesar 8,00 µg/kg. Kandungan aflatoksin B1 melebihi batas maksimum yang ditetapkan oleh BPOM RI (5 µg/kg), meskipun total aflatoksin masih di bawah batas total yang diizinkan (20 µg/kg). Dengan demikian, sampel dinyatakan tidak layak konsumsi. Hasil ini menegaskan pentingnya pengawasan mutu jagung mulai dari panen hingga penyimpanan, guna mencegah kontaminasi aflatoksin dan menjamin keamanan pangan masyarakat




Downloads

Published

2026-02-27

How to Cite

Azra Syaqila, F., & Handayani, D. (2026). Analysis of Aflatoxin in Corn from Traditional Markets in Padang City Using Immunoaffinity column and HPLC . Microbiotech, 3(2), 249–259. Retrieved from https://microbiotech.ppj.unp.ac.id/index.php/mcrobio/article/view/73

Issue

Section

Articles